Memulai Debut

my words

media indonesia

Memulai debut sebagai seorang wartawan menjadi hari yang tidak akan pernah bisa saya lupakan. Waktu itu, hari Jum’at 17 Mei 2013 saya pertama kali diminta untuk langsung terjun ke lapangan tanpa pernah ada pelatihan menulis sebelumnya.

Ketika itu, ada rapat koordinasi di kantor kementerian koordinator perekonomian yang dipimpin oleh Hatta Rajasa yang masih menjadi menteri koordinator perekonomian ketika itu, bersama para kepala daerah membahas pembangunan infrastruktur di daerah.

Salah satu pembahasannya adalah mengenai waduk Jatigede. Pembahasan berkutat pada upaya pemerintah untuk memindahkan masyarakat dari area genangan waduk agar waduk dapat segera digenangi.

Meskipun, ternyata waduk tersebut baru dapat digenangi pada bulan Juli 2015 setelah menko perekonomian berganti dua kali dari Hatta Rajasa menjadi Chairul Tandjung, kemudian beralih kepada Sofyan Djalil di periode pemerintahan baru Joko Widodo yang menggantikan Soesilo Bambang Yudhoyono.

Tulisan ini bukan untuk membahas mengenai waduk Jatigede. Biarlah itu menjadi domain bahasan pemerintah. Saya hanya ingin bercerita mengenai awal mula saya menjadi seorang wartawan.

Rapat dimulai sekitar jam 08.00 pagi dan berlangsung tertutup. Para wartawan hanya menunggu hingga rapat selesai untuk doorstop (menodong narasumber untuk wawancara langsung di tempat ketika ditemui).

Saya sudah berada di lokasi tidak lama dari waktu rapat dimulai. Karena tidak ada satu orang pun yang saya kenal di tengah kerumunan orang banyak yang mayoritas juga berprofesi sama, saya hanya bisa celingak-celinguk dengan tatapan bingung.

Saya bersyukur dengan pembawaan saya yang supel dan cenderung mudah beradaptasi dengan orang dan lingkungan baru, saya mulai memperkenalkan diri kepada rekan-rekan seprofesi baru tersebut. Orang pertama yang saya kenal ketika itu adalah Hendra, wartawan dari okezone.com.

Beberapa rekan media lain lambat laun mulai saya kenal, baik itu yang berasal dari tv, cetak, majalah, online, bahkan radio. Ketika itu, sebenarnya saya tidak sendiri.

Karena ada rekan sekantor yang juga ditugasi untuk meliput rakor tersebut. Namun, kami belum saling kenal. Meskipun akhirnya berkenalan, tapi interaksi  kami masih kaku dan sekedarnya bertanya.

Menjelang shalat Jum’at, sekitar jam 11.00 siang rapat selesai. Narasumber mulai berhamburan. Wartawan mulai sibuk mengerubungi narasumber yang ada dan melontarkan berbagai amunisi pertanyaan yang sudah mereka persiapkan. Saya pun ikut mewaancarai Hatta Rajasa ketika itu. Setelah ritual doorstop selesai, berita mulai diproses kemudian dikirimkan ke keranjang berita kantor.

Di hari pertama kerja saya mendapat teguran dari asisten redaktur yang bertugas sebagai koordinator liputan ketika itu. Menurutnya, dalam sebuah proses pembuatan berita untuk media cetak, tidak cukup hanya menggunakan satu orang narasumber, Minimal harus ada pendapat dan keterangan dari dua orang.

Pada waktu rapat sebenarnya memang ada banyak narasumber. Tetapi saya hanya mengenal dua orang, mereka adalah Hatta Rajasa Menko Perekonomian dan Ahmad Heryawan Gubernur Jawa Barat. Dan saya hanya mendapatkan keterangan dari Hatta Rajasa.

Teguran itu saya terima sebagai bahan masukan agar dapat menghasilkan produk jurnalistik yang lebih baik nantinya. Asred saya pun memaklumi karena hari itu merupakan debut perdana saya di lapangan sebagai wartawan.

Dan benar, orang bijak yang mengatakan bahagia itu sederhana. Ya, untuk bahagia itu gak perlu rumit dan ribet. Sesederhana melihat tulisan pertama dimuat, sesederhana itulah kebahagiaan.

Meskipun bukan dimuat di koran, melainkan di metrotvnews.com, media online yang berafiliasi dengan Media Indonesia. Tapi itu merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri untuk seorang pemula tanpa latar belakang pendidikan jurnalistik secara formal.

Menentukan di Tengah Kegamangan

my words

galau

Gamang. Itu pasti dirasakan oleh mahasiswa yang akan segera mengakhiri masa studinya. Setidaknya itu yang saya rasakan. Masa transisi dari mahasiswa menjadi sarjana tentu tidak mudah.

Ketika masih menjadi mahasiswa, kebutuhan sehari-hari masih dapat dipenuhi dari orang tua. Mereka masih akan berusaha untuk memastikan pasokan keuangan untuk anaknya hingga selesai kuliah.

Setelah resmi menyandang gelar sarjana, kita dituntut untuk secpatnya mengaplikasikan apa yang kita dapatkan selama menempuh perkuliahan. Dengan arti lain, harus segera mendapatkan sumber penghasilan.

Mungkin ini bukan hal yang sulit untuk mereka yang sudah terbiasa hidup mandiri dengan bekerja ketika masih kuliah. Nah, untuk mahasiswa yang belum pernah bekerja sebelumnya, mendapatkan pekerjaan setelah lulus bukan tugas mudah.

Pada akhir 2013, jumlah pengangguran terdidik lulusan diploma dan sarjana di Indonesia sebanyak 610 ribu dari total 7,17 juta pengangguran di Indonesia. Bukan jumlah yang sedikit. Fenomena ini juga sangat meresahkan, mengingat biaya yang dikeluarkan untuk menempuh pendidikan lanjutan untuk tingkat diploma dan sarjana tidak murah.

Tentu sangat mubadzir ketika biaya yang besar tersebut terbuang percuma dengan menjadi pengangguran setelah lulus.

Pada masa akhir kuliah atau ketika menyusun skripsi, sebenarnya saya sudah memiliki pekerjaan sebagai penyiar berita pada sebuah radio di Depok. Tetapi pekerjaan itu tidak berlangsung lama hanya sekitar enam bulan karena ada proses akuisis kepemilikan radio yang membuat seluruh struktural dan pekerjanya berubah.

Kembali saya memutar otak bagaimana caranya untuk mendapatkan pekerjaan. Saya berasal dari keluarga sederhana yang tidak memiliki relasi ring satu yang cukup bagus untuk memperoleh pekerjaan yang layak dengan mudah. Sehingga saya harus benar-benar berusaha mendapatkan pekerjaan dengan usaha saya sendiri.

Ketika saya selesai menghadapi sidang skripsi, hal pertama yang saya lakukan adalah mempersiapkan curriculum vitae saya sebaik mungkin. Kemudian dilengkapi dengan berbagai sertifikat-sertifikat kegiatan serta penghargaan yang pernah saya raih, dan juga tentunya surat keterangan lulus sementara dari fakultas, mengingat ijazah tidak dapat dikeluarkan sebelum wisuda.

Setelah berkas-berkas siap, saya mulai mendata berbagai lowongan pekerjaan potensial yang bisa saya dapatkan. Informasi lowongan potensial bisa didapatkan dari orang-orang terdekat kita dan juga relasi yang kita miliki.

Selama kuliah, selain belajar, saya banyak mengikuti berbagai kegiatan non akademik, tujuannya untuk mulai membangun jaringan dan relasi. Terus terang, itu sangat membantu untuk mencari lowongan pekerjaan.

Hanya sedikit lowongan pekerjaan yang saya lamar. Hanya tiga, untuk tiga jenis pekerjaan yang berbeda. Satu sebagai jurnalis media cetak harian, satu untuk costumer service di perbankan syariah, dan satu lagi sebagai supplier account di penyedia jasa untuk perusahaan travel asal Australia.

Dari tiga lamaran tersebut, dua mendapat respon. Saya diminta untuk hadir mengikuti tes tulis sebagai jurnalis. Setelah mengikuti tes tersebut, beberapa hari kemudian saya juga mendapat panggilan untuk tes di penyedia jasa untuk perusahaan travel Australia.

Di tempat yang kedua, berbagai tes dilakukan dalam satu hari. Dan dua hari kemudian saya dinyatakan diterima untuk bekerja di perusahaan tersebut. Tentu ada sedikit kelegaan karena sudah mendapatkan pekerjaan jauh hari sebelum wisuda. Namun, harus diakui, harapan utama saya adalah menjadi seorang jurnalis, karena ketertarikan saya pada dunia pemberitaan.

Di tengah kegamangan tersebut, saya menentukan untuk mengambil tawaran pekerjaan yang telah saya dapatkan, sambil menunggu dan berharap kemungkinan untuk dapat berkarir sebagai jurnalis.

Pada satu bulan masa kerja awal, saya mengikuti serangkaian pelatihan mengenai ‘calypso’, sistem komputer yang dipergunakan untuk keperluan administrasi dan pendataan travel. Baru dua minggu memasuki masa training, perusahaan media yang pernah saya ajukan lamaran menyatakan saya lulus tes tulis dan diundang untuk mengikuti tes wawancara.

Kegamangan kembali terjadi. Antara tetap bertahan di perusahaan tempat saya bekerja, atau memenuhi tawaran untuk datang tes interview dan mulai kembali merajut mimpi menjadi jurnalis. Di sinilah intuisi saya diuji untuk menentukan pilihan terbaik.

Pada kondisi seperti ini, kita memerlukan masukan dan saran dari orang yang ada di sekitar kita. Tak jarang keputusan yang kita ambil dipengaruhi oleh pendapat orang lain. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan kita. Masukan dan saran dari orang-orang hanya perlu kita pergunakan sebagai bahan pertimbangan.

Hidup yang kita jalani teramat berharga apabila harus ditentukan oleh orang lain. Berdasarkan masukan dan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk datang menghadiri tes interview dengan tetap bekerja di tempat saya bekerja saat itu.

Saya pun datang menghadiri tes wawancara tersebut. Tiga hari berselang, saya diminta untuk menjalani tes berikutnya, yaitu tes TOEFL. Kembali saya harus izin bekerja dari kantor saya waktu itu setelah sebelumnya saya juga sempat izin untuk tes wawancara. Izin saya waktu itu untuk mengurus persiapan wisuda, karena kebetulan saya belum wisuda ketika bekerja.

Wisuda saya ketika itu di tanggal 20 April 2013. Dan proses seleksi ini berlangsung pada awal April. Setelah resmi dinyatakan lulus tes TOEFL dan tinggal menjalani tes kesehatan, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari kantor tempat saya bekerja, dan mulai mempersiapkan diri untuk mengambil tantangan baru menjadi seorang wartawan.

Harus diakui, ini bukan persoalan mudah untuk memutuskan. Namun, kalau kita tidak berani menentukan untuk mengambil keputusan krusial dalam hidup, maka kita tidak akan pernah melangkah kemana-mana. Selamanya.

Baca dan Tulis

my words

baca tulis

Jujur, keinginan menjadi wartawan sempat terlintas bahkan sejak masih SD. Saya gemar menyaksikan berita di televisi, sedikit baca-baca informasi di koran, bahkan iklan-iklan di papan billboard sepanjang jalan juga tak luput dari perhatian saya.

Namun, seiring dewasa, cita-cita itu perlahan memudar, meskipun tidak sampai hilang. Salah satu hal yang menjaga cita-cita itu gak hilang adalah kebiasaan ataupun hobi menulis yang sering saya lakukan semasa sekolah.

Masa-masa sekolah mulai dari SMP hingga SMA saya habiskan di pondok pesantren di daerah Sukabumi. Kondisi yang jauh dari orang tua, serta keadaan yang menuntut saya mandiri dan belajar dewasa dalam menyikapi banyak hal, semakin mendorong saya untuk rajin menulis.

Sudah lebih dari dua buku diary dan puluhan kertas binder yang penuh dengan tulisan. Baik itu tulisan mengenai curhatan, opini pribadi, penilaian saya tentang seseorang, puisi, hingga cerpen pernah saya hasilkan semasa menjadi santri.

Bahkan, ada salah satu cerpen yang saya tulis dijadikan skenario untuk dilombakan dalam drama dwi bahasa di pesantren, dan menjadi juara.

Saya juga terpilih sebagai sutradara dan penulis skenario terbaik ketika itu. Cerpen sederhana saya juga pernah terpilih menjadi cerpen terbaik di pesantren.

Rangkaian prestasi tersebut hanya merupakan efek yang ditimbulkan dari kebiasaan saya menulis. Itu pula yang menginspirasi saya untuk kembali menghidupkan cita-cita yang mulai redup untuk menjadi penulis, dan juga wartawan.

Tapi, bukan berarti saya gak pernah mengalami kegagalan dan kekecewaan. Sebagai normalnya sebuah sekolah, pesantren juga memiliki majalah internalnya sendiri dan juga mading.

Tidak sedikit tulisan saya yang terbuang, dalam arti tidak layak muat, bahkan untuk dimuat di mading sekalipun. Meskipun akhirnya saya menjadi bagian redaksi mading dan majalah tersebut, masih juga ada tulisan saya yang dianggap tidak layak cetak.

Mungkin karena tulisan saya dinilai terlalu kering, standar, kurang menarik, dan sebagainya. Kecewa pasti. Tapi itu saya anggap sebagai sebuah investasi di masa depan. Anggaplah sebagai ajang latihan menulis.

Kebiasaan menulis ini berlangsung hingga kuliah. Memang, ketika kuliah saya memutuskan untuk tidak mengambil program studi komunikasi. Justru hubungan internasional yang menjadi pilihan studi saya.

Alasannya sepele, karena saya hobi bola. Dan di HI, saya dapat mempelajari lebih jauh mengenai kota-kota dan negara-negara yang selama ini saya kenal sebagai sebuah klub bola, ataupun kesebelasan tim nasionalnya saja. Ternyata pilihan masuk HI mendukung hobi menulis saya.

Mulai dari menulis untuk tugas-tugas kuliah, menulis artikel untuk buletin tiga bulanan himpunan mahasiswa HI yang rutin terbit ketika itu, hingga menulis untuk majalah fakultas dan surat kabar daerah.

Menulis, tidak dapat dipisahkan dari membaca. Untuk menghasilkan tulisan yang baik, kita harus banyak membaca. Seharusnya, setiap orang bisa menjadi penulis handal yang menghasilkan karya-karya best seller. Karena di tingkat pendidikan paling dasar di negeri ini, seorang guru pasti pertama kali mengajarkan anak didiknya untuk membaca, baru kemudian menulis.

Itu artinya, sebelum mulai menulis, harus dimulai dari kebiasaan untuk membaca. Baca apa saja untuk lebih tahu banyak hal. Bukankah ayat pertama yang diturunkan Allah untuk Muhammad adalah perintah untuk membaca? Perintah untuk iqra’?

To Start is not Easy

my words
IMG_5323

the real life has been started

Pekerjaan, apapun itu yang sedan dijalani saat ini merupakan suatu anugrah yang mungkin tidak dapat dinikmati oleh semua orang. Saat ini, pasti ada yang merasa bosan, jenuh, dan suntuk dengan profesi yang dijalaninya. Tapi perlu diingat, berapa banyak orang yang bahkan menjadikan profesi yang kita jalani sekarang sebagai mimpi dan target capaian mereka.

Memang, tidak bisa dipungkiri, banyak uneg-uneg, keluhan, bahkan beban yang dirasakan selain juga kebahagiaan dan kesenangan yang diperoleh, khususnya perolehan pundi-pundi rupiah untuk menyambung hidup, yang berasal dari pekerjaan kita saat ini.

Melalui tulisan yang memang sengaja dituliskan sebagai bentuk curhatan ini, saya akan berbagi mengenai banyak hal yang dirasakan selama menjalani profesi menjadi seorang wartawan di  Media Indonesia, salah satu media cetak ternama tanah air. Banyak orang yang mungkin bercita-cita memiliki profesi sebagai seorang wartawan.

Itulah mengapa setiap konsentrasi jurnalistik dalam program studi komunikasi di setiap kampus selalu dibanjiri peminat. Secara awam, banyak yang menilai menjadi seorang wartawan itu keren, berwawasan luas, lugas, supel, dan berbagai pelabelan positif lainnya, dan bahkan tidak sedikit juga labelling negatif tentang orang yang menjalani profesi ini.

Banyak orang yang menilai wartawan adalah orang yang penuh tekanan karena selalu diburu-buru deadline. Wartawan selalu tidak punya waktu luang, bahkan untuk dirinya sendiri. Banyak juga yang menganggap hidup dan waktu yang dimiliki seorang wartawan sangat bergantung dengan orang lain, khususnya bergantung dengan narasumber.

Satu hal yang perlu diingat, bahwa seorang wartawan juga hanya merupakan seorang manusia biasa, yang hidup di tengah-tengah manusia bumi lainnya. Wartawan juga tidak akan pernah luput dari sisi-sisi humanis di dirinya.

Sebagai seorang wartawan yang masih sangat hijau dan minim pengalaman, tanpa latar belakang ilmu jurnalistik yang mumpuni, saya hanya ingin berbagi kisah. Bukan hanya sekadar keluh kesah.

Seperti apa yang tertulis di awal, permulaan memang gak pernah berjalan mudah. Seperti ketika harus mengawali untuk menulis curhatan ini. Seorang anak harus mengalami fase mulai dari tengkurap, merangkak, dan mulai belajar berdiri.

Setelah mampu berdiri, mulai langka-langkah kecil diciptakan oleh anak tersebut untuk kemudian mampu berjalan dengan lancar dan kemudian dapat berlari kencang. Fase ini merupakan fase yang berlaku universal. Dan bahkan menjadi sunnatullah ataupun hukum alam untuk semua hal. Selalu akan ada saat-saat sulit untuk memulai.

Bingung apa yang harus  dilakukan. Tak tahu bagaimana harus memulai. Ragu untuk menentukan langkah. Rangkaian ini sangat natural. Tanpa bisa dibuat-buat. Seahli dan seprofesional apapun seseorang, pasti pernah mengalami fase ini.

Pun dengan saya, juga mengalami hal ini ketika pertama kali memutuskan untuk menjadi wartawan. Gak gampang untuk meyakinkan diri untuk jadi wartawan. Pas hati udah yakin, masih gak gampang juga buat menembus serangkaian tes yang ada.

Tapi, bukan berarti semua susah dan layaknya sebuah tembok beton tebal yang susah didorong. Selama ada niat dan keyakinan, didorong oleh usaha berbalut do’a, semua hal menjadi mungkin. Terdengar klise memang, tapi itu yang terjadi, setidaknya yang saya alami. Akan banyak kisah yang tersaji nantinya, berpondasi pada keyakinan, usaha, dan do’a.